
Bandarlampung, Warta9.com – Kemacetan di ruas Jalan Kamboja–Enggal sekitar kantor BRI Bandarlampung menjadi pembahasan menarik dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar di Ruang Komisi III DPRD Kota Bandarlampung, Kamis (26/2/2026).
RDP tersebut mempertemukan Forum Masyarakat Rawa Subur Enggal (FMRE), pihak Bank Rakyat Indonesia (BRI) Kantor Wilayah Bandarlampung, Dinas Perhubungan Kota Bandarlampung, serta para anggota dewan. Fokus pembahasan adalah persoalan parkir yang dinilai menjadi penyebab utama kemacetan sejak beroperasinya Kantor Wilayah BRI di Jalan Raden Intan.
Salah satu anggota Komisi III DPRD Kota Bandarlampung H. Yuhadi, SHI, MH, bersuara keras. Ia menegaskan pentingnya solusi jangka panjang berupa penyediaan lahan parkir permanen. Ia mengingatkan agar BRI tidak hanya berorientasi pada keuntungan bisnis semata. Tapi juga harus memikirkan kepentingan masyarakat banyak.
“Saya sangat mengenal wilayah tersebut karena itu daerah pemilihan saya. BRI jangan hanya memperhatikan aspek keuntungan semata. Yang lebih penting adalah menyediakan lahan parkir permanen,” ujar politisi Partai Golkar tiga periode di DPRD Bandarlampung ini.
Karena itu, Yuhadi mendesak agar BRI menyediakan lahan parkir permanen. Selain itu lanjut Yuhadi, pembelian lahan warga di kawasan Rawa Subur dapat menjadi alternatif solusi. Ia menyarankan BRI mempertimbangkan membeli rumah warga yang berminat menjual, guna dijadikan area parkir atau akses tambahan. “Ini peluang bagus bila BRI berani membeli rumah warga di Rawa Subur sebagai jalur alternatif terbaik. Dengan demikian, kemacetan bisa terurai,” tambahnya.
Senada, Ketua Komisi III DPRD Kota Bandarlampung, Agus M., menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. “Jadi satu-satunya cara adalah pihak BRI menyediakan lahan parkir secara permanen,” tegasnya.
Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Bandarlampung, Iskandar, menilai akar persoalan terletak pada keterbatasan lahan parkir yang tidak sebanding dengan jumlah kendaraan nasabah dan karyawan. “Selama BRI belum menyiapkan lahan parkir permanen, kemacetan di ruas Jalan Kamboja akan sulit terselesaikan,” ujarnya.
Menurutnya, kendaraan yang meluber hingga ke badan jalan menjadi faktor utama penyempitan arus lalu lintas di kawasan tersebut.
Menanggapi desakan tersebut, perwakilan BRI Kanwil Bandarlampung, Arief Amiruddin, menyatakan pihaknya berkomitmen mengupayakan pengadaan lahan parkir permanen dengan mengajukan proposal ke kantor pusat. “Kami akan ajukan proposal untuk pengadaan lahan parkir permanen ke BRI Pusat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, saat ini manajemen telah berupaya mengurangi dampak kepadatan dengan menyewa lahan tambahan di sekitar kantor. Sejumlah karyawan diarahkan memarkirkan kendaraan di area Hotel Amalia dan lahan Mandiri Car Wars di Jalan Kamboja.
“Area parkir di kantor BRI diprioritaskan untuk nasabah. Karyawan kami parkir di Hotel Amalia dan lahan Mandiri Car Wars,” jelasnya.
Namun, langkah tersebut diakui belum sepenuhnya efektif mengurai kemacetan, terutama pada jam-jam sibuk.
Sedangkan Ketua FMRE, Sony Eriko, dalam pemaparannya menyebut kemacetan semakin sering terjadi sejak Kanwil BRI berdiri di kawasan tersebut. Ia menilai persoalan utama adalah minimnya ketersediaan lahan parkir.
“Penyebabnya adalah BRI tidak menyiapkan lahan parkir yang memadai. Akibatnya, kendaraan meluber ke badan jalan dan menimbulkan kemacetan,” tegasnya.
RDP turut dihadiri tokoh masyarakat Indra Cahaya Marga, Muchlis Wertha, Sunawardi, serta sejumlah warga Rawa Subur dan Enggal. Dari pihak BRI hadir Arief Amiruddin dan Akbar selaku perwakilan BRI Cabang Bandar Lampung.
Rapat ditutup dengan dorongan agar BRI segera menindaklanjuti masukan DPRD dan masyarakat. Warga berharap solusi konkret segera direalisasikan demi menjaga kelancaran arus lalu lintas dan kenyamanan aktivitas di kawasan Enggal Bandarlampung. (W9-jm)

*






Jangan nunggu lama lama ,segera ditindak lanjuti agar kemacetan bisa berkurang atau terhindar dari kemacatan
Masyarakat hanya niat dari pada BRI tersebut.