Pengelolaan Banjir Bandarlampung dengan Gerakan Zero Runoff Skala Rumah Tangga, Oleh : Dr. Ir. Lilik Ariyanto, ST., MT., I.P.M., ASEAN Eng*

Warta9.com – Indonesia merupakan negara dilewati oleh garis khatulistiwa, hampir seluruh wilayah Indonesia memiliki iklim tropis. Perairan yang hangat dan merata membentuk 81% dari wilayah Indonesia menyebabkan suhu di darat rata-rata sekitar 28° C di wilayah pesisir, 26° C di daerah pedalaman, dan sekitar 23° C untuk wilayah dataran yang lebih tinggi. Variabilitas suhu relatif rendah dari musim ke musim. Iklim Indonesia juga dicirikan oleh tiga pola curah hujan yakni pola monsunal, pola equatorial, dan pola lokal (BMKG, Tahun 2024). Musim hujan di Indonesia umumnya terjadi dari bulan Oktober hingga Maret. Sementara itu, di musim kemarau, angin muson dengan sedikit uap air bertiup dari Australia ke Asia melewati wilayah Indonesia, menyebabkan berkurangnya curah hujan yang kemudian dikenal sebagai musim kemarau di Indonesia. Biasanya terjadi dari bulan April hingga November. Kota Bandarlampung merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang yang berkembang dengan pesat dalam kurun waktu 10 (sepuluh) tahun terakhir, hal ini dapat terlihat dari jumlah penduduk di Tahun 2014 sebesar 960.695 jiwa dan berkembang menjadi 1.214.330 jiwa pada Tahun 2024 (Data BPS Kota Bandarlampung).

Berdasarkan analisis dan kajian yang telah dilakukan, di Kota Bandarlampung terdapat 6 (enam) sungai yang mengalir melintasi kota yang selama ini dilakukan pantauan dan kegiatan operasi serta pemeliharaan oleh Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji-Sekampung. Keenam sungai tersebut adalah : Way Sukamaju, Way Kuripan, Way Bako, Way Kuala, Way Lunik dan Way Kandis Nunyai. Selain sungai-sungai tersebut terdapat beberapa sungai lain yang menjadi perhatian khusus oleh Pemerintah Provinsi Lampung dan Pemerintah Kota Bandar Lampung agar dapat dilakukan operasi dan pemeliharaan setiap tahunnya.

Bacaan Lainnya

Dengan kondisi penataan daerah di sekitar sungai di Kota Bandar Lampung yang cenderung mengalami alih fungsi lahan pada daerah tangkapan air (Cathcment Area), okupansi dan pendirian bangunan liar di tepi sungai, penyempitan badan air serta masih maraknya kebiasaan menjadikan sungai sebagai tempat sampah, seringkali mengakibatkan menurunnya kapasitas ruang tampung sungai yang akan berdampak banjir pada saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi dalam durasi yang lama.

Pada hari Jumat, 6 Maret 2026 Kota Bandarlampung kembali mengalami peristiwa banjir yang cukup merata dan tersebar di beberapa titik lokasi. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung, tercatat 47 titik banjir tersebar di sejumlah kecamatan di kota setempat. Itu meliputi Kecamatan Sukarame di 10 titik, Way Halim (9 titik), Sukabumi (4 titik), Sukabumi (4 titik), dan Rajabasa (3 titik). Kemudian Kecamatan Tanjung Senang (5 titik), Tanjungkarang Timur (1 titik), Tanjungkarang Barat (1 titik), Tanjungkarang Pusat (2 titik), Enggal (2 titik), Labuhan Ratu (3 titik), Kedamaian (1 titik), Langkapura (1 titik), dan Kemiling (1 titik).

Dengan peristiwa banjir yang berulang dari tahun ke tahun, maka diperlukan upaya-upaya nyata dari Pemangku Kepentingan dengan koordinasi dan kolaborasi bersama untuk Menyusun rencana tindak darurat untuk jangka pendek hingga jangka panjang sebagai bentuk tanggungjawab bersama untuk mengelola potensi banjir di Kota Bandarlampung.

Salah satu upaya pengendalian banjir jangka panjang dapat dilakukan dengan memperbaiki daerah tangkapan air serta mengurangi besaran aliran permukaan sehingga kapasitas tampung sungai tidak terbebani oleh aliran debit banjir secara berlebihan. Konsep mengurangi aliran permukaan secara teknis dikenal dengan sistem Zero Runoff dimana air hujan yang turun sedapat mungkin dapat ditangkap, disimpan dan diresapkan pada cekungan-cekungan atau wadah air secara alami maupun buatan dengan sistem infiltrasi atau daya serap yang baik.

Dalam jangka panjang sistem Zero Runoff selain dapat mengurangi beban sungai dalam mengalirkan debit banjir saat musim penghujan, dapat juga sebagai upaya recharge air tanah yang merupakan bagian dari upaya konservasi untuk menjaga kelangsungan dan keberlanjutan potensi ketersediaan air tanah.
Sistem Zero Runoff dapat dilakukan mulai dari infrastruktur yang paling sederhana sampai dengan infrastruktur teknis yang besar dan kompleks. Infrastruktur yang paling sederhana untuk skala rumah tangga dan instansi yang dapat dilakukan adalah dengan membangun instalasi Pemanenan Air Hujan Terintegrasi dengan Kolam Retensi, dimana instalasi yang dibangun bekerja dengan sistem menangkap, menyimpan, memanfaatkan dan mengalirkan air hujan ke dalam kolam retensi sesuai dengan kapasitas tampung yang dimilikinya.

Sistem ini akan menangkap sejumlah besar volume air hujan dan ditampung, apabila intensitas hujan tinggi dalam durasi yang panjang dan tempat penampungan penuh, maka kelebihan tampungan akan dialirkan dan disimpan pada kolam-kolam retensi dengan kapasitas yang menyesuaikan dengan ketersediaan lahan. Ketika kolam-kolam retensi tersebut penuh, maka sisa volume air yang ada akan dialirkan ke dalam sumur-sumur resapan yang secara perlahan akan meresapkan air ke dalam tanah sebagai bagian dari upaya konservasi air tanah.

Setelah hujan reda, maka air hujan yang berada di tempat tampungan dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan sehari-hari seperti menyiram tanaman, mencuci kendaraan, membersihkan rumah dan teras (pel lantai) dan keperluan lainnya sehingga dapat mengurangi volume pemakaian air bersih (PDAM atau Sumur Bor). Sedangkan air yang tertampung di kolam-kolam retensi dapat dimanfaatkan untuk budidaya ikan air tawar dan tanaman sayur di sekeliling kolam sehingga dapat memenuhi kebutuhan protein keluarga serta mengurangi pengeluaran biaya untuk kebutuhan sehari-hari.

Keberadaan Pemanenan Air Hujan Terintegrasi Kolam Retensi sebagai sistem Zero Runoff di Kota Bandar Lampung secara signifikan dapat membantu upaya pencegahan banjir dengan asumsi jumlah rumah di Kota Bandar Lampung sekitar 200 ribu unit dan setiap rumah dapat memanen air hujan dengan kapasitas tampungan sederhana sebesar 0.5 m3 dan disimpan di kolam retensi dengan kapasitas 2 m3 maka setiap hujan turun, akan mampu mengurangi aliran permukaan sebesar 400 ribu m3 air sehingga beban kapasitas tampung sungai dapat ditekan untuk mengurangi dampak banjir akibat air sungai yang meluap.

Bentuk partisipasi kita dalam mencegah dan mengurangi potensi banjir di sekitar rumah tinggal kita dapat dilakukan mulai dari hal yang sederhana, yaitu membangun instalasi pemanenan air hujan terintegrasi secara sederhana atau bersama bergotong royong dengan tetangga atau komunitas sehingga sistem Zero Runoff dapat ditingkatkan dari waktu ke waktu agar kota tempat kita tinggal dapat berkurang potensi banjir. Mari kita bangun kepedulian mulai dari diri kita dan keluarga kita. (*Dosen Prodi S1 Teknik Sipil Universitas Teknokrat Indonesia)

banner 728x90*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *