Wakil Rektor Universitas Teknokrat: Idul Fitri Momentum Membersihkan Hati dan Memperbaiki Hubungan antarsesama

Mahathir Muhammad, Wakil Rektor UTI menjadi Khotib di Masjid Al Hijrah Kota Baru. (foto : ist)

Lampung Selatan, Warta9.com – Wakil Rektor Universitas Teknokrat Indonesia (UTI), Dr. H. Mahathir Muhammad, SE, MM, menyampaikan, bahwa tanda diterimanya amal adalah ketika seorang hamba diberi taufik untuk melakukan amal shalih setelahnya.

Artinya jika setelah Ramadhan kita tetap rajin shalat, rajin membaca Al-Qur’an, rajin sedekah, maka itu tanda bahwa Ramadhan memberi pengaruh pada hati kita.

Bacaan Lainnya

Idul Fitri adalah tentang hati yang kembali suci, tentang ruh yang bersujud dalam damai di hati. Merasakan kelembutan kasih sayang Allah yang Maha Abadi. Idul Fitri adalah tentang panggilan untuk kembali pada kesucian, memperkuat silaturahmi dan kebersamaan.

Menanamkan kasih sayang pada mereka yang selama ini bersama dalam kehidupan. Semoga kebahagiaan ini tidak hanya berhenti di hari ini, tetapi terus menyala dalam setiap langkah kehidupan ini. “Hari raya Idul Fitri juga merupakan momentum untuk membersihkan hati dan memperbaiki hubungan antarsesama. Pada hari yang mulia ini, marilah kita membuka pintu maaf seluas-luasnya, menghapus dendam dan permusuhan, serta mempererat kembali ukhuwah Islamiyah”.

Hal tersebut disampaikan Mahathir Muhammad dalam khutbah Idul Fitri 1447 H, di Masjid Al Hijrah Kota Baru Lampung Selatan, Sabtu (21/3/2026).

Menurut Mahathir, untuk mewujudkan kesucian diri kita, ada dua hal yang perlu kita pahami dan tancapkan dalam hati dan sukma.

Pertama adalah penguatan dimensi vertikal kepada Allah SWT, melalui penguatan ibadah dan meraih ampunan atas segala dosa.

Kedua adalah penguatan dimensi horisontal kepada sesama manusia, melalui kepekaan sosial dan senantiasa menebar kebaikan dan cinta. Jika dua hal ini mampu diaplikasikan dalam kehidupan kita, maka insya Allah kehidupan kita akan dinaungi kebahagiaan sampai akhir masa. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَسَارِعُوْْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ منْ رَّب كُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا
السَّمٰوٰتُ وَالََْرْضُُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَُۙ

Artinya, “Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (Surat Ali Imran ayat 133).

Dilanjutkan dengan:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرََّّۤاءِ وَالضَّرََّّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِِۗ وَ ه اللَُّ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْ

Artinya, “(Yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Surat Ali Imran ayat 134).

Dari ayat ini kita diingatkan cara untuk menyucikan jiwa;

Langkah pertama, untuk meraihnya adalah berdasarkan ayat Al-Imran 133. Kita diperintahkan untuk bersegera meraih ampunan dan surga-Nya. Seraya menyadari bahwa kuasa Allah begitu luas bagi kita. Seluas surga yang Ia sediakan bagi orang-orang yang bertakwa.

Bentuk ikhtiar meraih ampunan-Nya, telah kita lakukan selama satu bulan penuh. Berpuasa menjalankan perintah Allah dengan hati yang kukuh. Iman dan takwa juga terus kita semai untuk memastikan ibadah kita senantiasa utuh. Semoga semua ini berujung pada ampunan Allah sebagaimana hadits Rasulullah dari Abu Hurairah:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَاناا وَاحْتِسَاباا غُفِرَ
لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya, “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, dengan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa masa lalunya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Langkah kedua, untuk mensucikan diri adalah sesuai dengan lanjutan ayat pada surat Ali Imran ayat 134. Jika kita ingin kembali kepada kesucian dan ketakwaan yang kuat, maka kita harus menguatkan ibadah sosial dengan sedekah, infak, dan zakat. Ibadah ini tidak hanya dilakukan saat kita dalam kondisi finansial kuat, namun harus dilakukan saat kita merasa berat sebagai wujud taat kepada Allah sang pemberi nikmat.

Kita harus yakin bahwa berbagi tidaklah sama sekali akan mengurangi harta kita. Sebaliknya, dengan berbagi maka hakikatnya Allah sedang menambah apa yang kita punya. Zakat fitrah yang kita keluarkan di bulan puasa dan zakat mal untuk menyucikan jiwa kita, adalah wujud kesadaran jiwa, bahwa semua yang kita punya adalah milik Allah swt dan akan kembali kepada-Nya.

Hal ini sekaligus menyadarkan kita bahwa ada hak orang lain di dalam harta kita, semua bukan milik kita dan tak akan di bawa saat kita meninggalkan dunia. Hanya dengan cara berbuat baik dengan harta yang disedekahkan kepada sesama, harta kita akan memberi manfaat saat kita sudah kembali kepada Allah SWT.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، عن رَسُولَ اللََِّّ
صل ى الله عليه وسل م قَالَ: مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زادَاللهُ عَبْداا بعَفْوٍ إِلََّ عِ زاا، وَمَا تَوَاضَعَ أحَدٌ للهِ إِلََّرَفَعَهُ الله
Artinya, “Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya kepada saudaranya,)kecuali kemuliaan di dunia dan akhirat, serta tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan meninggikan derajatnya di dunia dan akhirat’.” (HR Muslim).

Hari raya juga merupakan momentum untuk saling memaafkan dan memperbaiki hubungan antar sesama.
Rasulullah SAW bersabda:
لََ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ
“Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Terutama meminta maaf kepada kedua orang tua kita, yang telah melahirkan kita ke dunia. Beruntunglah yang masih memiliki kedua orang tua. Mereka adalah jimat yang harus terus kita jaga. Merekalah yang telah berjasa dalam kehidupan kita dan menghantarkan kita meraih kesuksesan kehidupan di dunia.
Dalam kitab Tafsir Marah Labid Jilid I, halaman 522, Syekh Nawawi Banten menjelaskan bahwa anak harus menghormati dan berbakti kepada orang tua. Beliau mengingatkan bahwa orang tua telah memberikan kasih sayang dan berkorban tanpa batas dalam mendidik serta membesarkan anak-anak mereka. Sehingga sebagai anak, kita wajib membalas kebaikan mereka, meskipun apa yang kita lakukan tidak akan pernah sebanding dengan pengorbanan yang telah mereka berikan dalam hidup kita. Semoga Allah swt menerima amal ibadahnya dan mengampuni dosa-dosanya. Semoga Allah menerima doa-doa kita untuk orang tua kita. Amin. “Maka di hari yang mulia ini, mari kita buka pintu maaf seluas-luasnya, hapuskan dendam, dan eratkan kembali ukhuwah Islamiyah,” ajak Mahathir. (W9-jm)

banner 728x90*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *