
Bandarlampung, Warta9.com – Universitas Islam Negeri Radin Intan Lampung (UIN RIL), menambah 16 guru besar (Profesor). Rencana, belasan guru besar ini akan dikukuhkan oleh Rektor UIN RIL Prof. H. Wan Jamaluddin Zakaria, PhD, Minggu (26/7/2026).
Diantara guru besar yang akan dikukuhkan adalah alumni Prodi Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah angkatan 1993 Prof. Dr. Koderi, S.Ag,.M.Pd. Ia menjadi guru besar bidang “Media Pembelajaran Bahasa Arab“.
Profesor Koderi bukan dari keluarga akademisi atau priyayi. Ia anak seorang petani dengan kehidupan yang pas-pasan. Tapi siapa tahu perjalanan hidup seseorang sering kali tidak ditentukan oleh tempat ia dilahirkan, tapi dengan keteguhan hati dalam menghadapi setiap ujian kehidupan dia sampai puncak gelar akademisi.
Demikian pula perjalanan Prof. Dr. Koderi, S.Ag., M.Pd., yang lahir di sebuah desa sederhana, Nglarangan, Selosari, Kandat, Kediri, Jawa Timur, 13 Juli 1973.
Masa kecil, Prof Koderi jauh dari kemewahan. Ia tumbuh di tengah keluarga petani yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Bahkan, tanggal kelahirannya pun tidak tercatat secara administratif karena pada masa itu kelahiran anak di desa lebih sering diingat berdasarkan musim daripada kalender. Namun, dari kesederhanaan itulah tumbuh nilai-nilai kejujuran, kerja keras, kesabaran, dan keyakinan bahwa pendidikan merupakan jalan terbaik untuk mengubah kehidupan.
Perubahan besar terjadi ketika keluarga memutuskan merantau ke Desa Pujodadi, Lampung, dengan harapan memperoleh kehidupan yang lebih baik. Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan tempat tinggal, melainkan awal dari perjuangan panjang yang penuh pengorbanan. Ayah dan ibu bekerja tanpa mengenal lelah sebagai petani, sementara kehidupan keluarga tetap berada dalam kondisi serba terbatas. Musibah kehilangan ayah pada usia yang relatif muda menjadi titik balik yang menempa karakter Koderi. Sejak saat itu, ia belajar bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan, tetapi setiap kesulitan dapat menjadi guru terbaik yang mengajarkan ketabahan, tanggung jawab, dan keteguhan iman.
Masa pendidikan dilalui dengan penuh perjuangan. Keterbatasan ekonomi menyebabkan tunggakan biaya sekolah menjadi pengalaman yang berulang. Rasa malu karena belum mampu membayar SPP, berjalan kaki menuju sekolah, hingga menahan lapar menjadi bagian dari keseharian. Namun, keadaan tersebut tidak pernah memadamkan semangat belajar. Justru dari keterbatasan itulah tumbuh tekad bahwa ilmu pengetahuan adalah investasi yang tidak dapat dirampas oleh siapa pun. Setiap kesulitan dijadikan energi untuk terus melangkah, memperbaiki diri, dan tidak menyerah pada keadaan.
Perjalanan akademik kemudian membawanya menempuh pendidikan tinggi, mengabdi sebagai guru, dosen, peneliti, dan akhirnya menjadi akademisi yang aktif mengembangkan inovasi dalam bidang Pendidikan Bahasa Arab, Pendidikan Agama Islam dan Manajemen Pendidikan Islam. Jalan menuju jabatan akademik tertinggi bukanlah jalan yang singkat.
Namun dibangun melalui ribuan jam mengajar, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, publikasi ilmiah, serta komitmen untuk terus belajar sepanjang hayat. Baginya, gelar profesor bukanlah tujuan akhir, melainkan amanah untuk terus menghasilkan karya yang bermanfaat bagi umat, bangsa, dan dunia pendidikan.
Perjalanan dari seorang anak desa yang tumbuh dalam keterbatasan hingga dipercaya menyandang gelar Guru Besar membuktikan bahwa keberhasilan tidak semata-mata ditentukan oleh latar belakang keluarga atau kemudahan hidup, melainkan oleh ketekunan, integritas, doa, dan pertolongan Allah SWT.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa setiap kesulitan selalu menyimpan kesempatan, setiap air mata dapat menjadi sumber kekuatan, dan setiap langkah kecil yang dilakukan dengan ikhlas akan mengantarkan seseorang menuju cita-cita yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Inilah kisah “Lapar, Letih, Lirih: Jalan Sunyi Menuju Guru Besar”, perjalanan sebagai bukti bahwa kesabaran, kerja keras, dan keikhlasan akan selalu menemukan jalannya menuju keberhasilan.
Nilai atau Pengalaman yang Paling Membentuk Perjalanan Hidup
Ptofesor Koderi mengatakan, perjalanan hidup dan kariernya dibentuk oleh perpaduan nilai-nilai keluarga, ajaran agama, pengalaman hidup, serta keteladanan para guru dan orang-orang yang hadir dalam setiap fase kehidupan. “Sejak kecil, saya dibesarkan dalam keluarga petani sederhana yang mengajarkan bahwa kejujuran, kerja keras, kesederhanaan, kesabaran, dan rasa syukur merupakan modal utama dalam menjalani kehidupan,” ujar Prof Koderi.
Prinsip hidup yang selalu ia pegang adalah belajar sepanjang hayat (lifelong learning), bekerja dengan integritas, serta menjadikan ilmu sebagai sarana ibadah dan pengabdian kepada masyarakat. Ia meyakini bahwa keberhasilan akademik tidak semata ditentukan oleh kecerdasan intelektual, melainkan oleh kejujuran, disiplin, ketekunan, konsistensi, dan kemauan untuk terus belajar. Oleh karena itu, setiap tantangan ia jadikan sebagai kesempatan untuk bertumbuh, setiap kegagalan sebagai pelajaran, dan setiap keberhasilan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Perjalanan pendidikan saya dipengaruhi oleh banyak guru dan dosen yang tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai spiritual, keteladanan, kedisiplinan, dan kecintaan terhadap dunia akademik. “Saya belajar dari mereka bahwa seorang pendidik bukan hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi, membimbing, dan membangun karakter peserta didik. Keteladanan para guru tersebut menjadi motivasi bagi saya untuk menekuni profesi dosen sebagai bentuk pengabdian dalam mencerdaskan kehidupan bangsa,” kata Prof Koderi.
Pengalaman hidup dalam keterbatasan ekonomi menjadi salah satu peristiwa yang paling membentuk karakternya. Masa kecil yang diwarnai dengan kesulitan memenuhi kebutuhan sekolah, bekerja membantu orang tua, hingga kehilangan sosok ayah pada usia muda mengajarkan arti ketangguhan, tanggung jawab, dan kemandirian. Pengalaman tersebut menumbuhkan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan paling mulia untuk mengubah kehidupan. Kesulitan bukanlah alasan untuk berhenti, melainkan energi untuk terus berjuang dan memberikan yang terbaik.
Dalam perjalanan karier akademik, kesempatan mengabdi sebagai guru, dosen, peneliti, dan pengelola pendidikan semakin memperkuat keyakinan bahwa ilmu pengetahuan harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kegiatan penelitian, publikasi ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan inovasi pembelajaran, hingga keterlibatan dalam penjaminan mutu pendidikan memperluas wawasan sekaligus menguatkan komitmen untuk terus berkontribusi bagi pengembangan pendidikan Islam, khususnya Pendidikan Bahasa Arab.
Menurut Prof Koderi, peristiwa pengukuhan sebagai Guru Besar dimaknai sebagai puncak perjalanan, melainkan awal dari amanah yang lebih besar untuk menghasilkan karya-karya ilmiah yang bermanfaat, melahirkan generasi akademisi yang unggul, serta membangun pendidikan yang berorientasi pada mutu, karakter, dan kemajuan peradaban. “Saya percaya bahwa ilmu pengetahuan akan memiliki nilai apabila diabdikan untuk kemaslahatan umat. Karena itu, prinsip yang senantiasa saya pegang adalah berkarya dengan integritas, mengabdi dengan ketulusan, dan belajar tanpa henti, agar setiap langkah kehidupan menjadi bagian dari ikhtiar mewujudkan pendidikan yang mencerahkan, memanusiakan, dan membawa manfaat bagi bangsa, negara, dan peradaban,” pungkas suami Heni Inayah ini.
Guru besar yang telah dikaruniai empat anak ini, pada pengukuhan nanti akan menyampaikan orasi ilmiah tentang “Model Salam Tech dan Kearifan Lokal Lampung: Paradigma Pembelajaran Bahasa Arab di Era Digital Berbasis Karakter”.
Riwayat Pendidikan :
1. SDN 3 Poncokresno Gedung Tataan 1987
2. MTs Al-Hidayah Poncokresno Gedung Tataan 1990
3. Madrasah Aliyah Negeri 2 Tanjung Karang 1993
4. S1 IAIN Raden Intan Bandar Lampung, Prodi Pendidikan Bahasa Arab Fak. Tarbiyah 1999
5. Magister (S2) FKIP Unila 2008
6. Doktor (S3) Universitas Negeri Jakarta 2018. (W9-jm)
*





