Mahasiswa Prodi S1 Teknik Sipil Universitas Teknokrat Field Trip ke Bendungan Batutegi

Mahasiswa Prodi S1 Teknik Sipil UTI melakukan kunjungan edukatif ke Bendungan Batu Tegi. (foto : ist)

Tanggamus, Warta9.com – Mahasiswa Program Studi S1 Teknik Sipil Universitas Teknokrat Indonesia (UTI), melakukan kunjungan lapangan (field trip) edukatif ke Bendungan Batutegi, Kabupaten Tanggamus, Lampung, pada Jumat, 7 Agustus 2026.

Kegiatan akademis ini diikuti oleh puluhan mahasiswa S1 Teknik Sipil bersama jajaran dosen pengampu untuk membedah secara langsung aspek perencanaan, konstruksi, pemeliharaan, serta sistem operasi salah satu bendungan batu berinti kedap air terbesar di Asia Tenggara tersebut.

Bacaan Lainnya

Kunjungan ini dirancang sebagai jembatan yang menghubungkan teori pemodelan hidrologi, rekayasa geoteknik, dan struktur air yang dipelajari di ruang kuliah dengan realitas operasional di lapangan. Melalui pengamatan langsung terhadap infrastruktur bendungan berskala mega, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami rumusan teoritis, tetapi juga dinamika teknis serta kompleksitas tata kelola sumber daya air nasional.

Rombongan dosen yang hadir mendampingi para mahasiswa dalam kegiatan peninjauan ini antara lain Dr. Ir. Lilik Ariyanto, ST., MT., ASEAN Eng., Sefrinta Sasma Murdiagatma, S.T., M.T., Vanita Kesumawati Yacub, S.T., M.Eng., Rahma Sopilawati, S.Ars., M.T., Ir. Susarman, S.T., MT., Ir. Sari Anton, S.T., MT., serta Ir. Hadyan Arifin Bustam, ST., MT.

Meneropong Kemegahan dan Fungsi Multisektor Bendungan Batutegi
Bendungan Batutegi, yang diresmikan sejak awal dekade 2000-an, menghentak perhatian para peserta begitu rombongan tiba di lokasi. Membendung aliran Sungai Sekampung dan Sungai Sangharus, bendungan tipe urugan batu (rockfill dam) dengan inti tanah kedap air ini memiliki tinggi mencapai 125 meter dan volume tampungan efektif hingga ratusan juta meter kubik air.
Selama peninjauan, para akademisi dan praktisi pendidikan teknik sipil memberikan penjelasan langsung di berbagai area krusial bendungan. Peninjauan mencakup struktur tubuh bendungan (main dam), bangunan pelimpah (spillway), menara pengambilan (intake tower), hingga fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Dr. Ir. Lilik Ariyanto, S.T., M.T., ASEAN Eng., menegaskan pentingnya pemahaman mahasiswa terhadap fungsi multiguna (multipurpose dam) yang diemban oleh Bendungan Batutegi. “Bendungan ini merupakan tulang punggung pengelolaan air di Provinsi Lampung. Selain berfungsi sebagai pengendali banjir dan penyedia air baku untuk kebutuhan domestik serta industri, Batutegi menyuplai irigasi untuk puluhan ribu hektar lahan pertanian di kawasan Sekampung Hilir serta menghasilkan energi bersih melalui PLTA berkapasitas 2×14 MW,” terangnya di sela-sela diskusi lapangan.

Pentingnya integrasi hidrologi DAS (Daerah Aliran Sungai) Sekampung menjadi fokus perhatian lainnya. Mahasiswa diajak melihat bagaimana fluktuasi debit air disimulasikan dan dikelola secara tepat, terutama dalam menghadapi dinamika iklim global yang kian tidak menentu.

Pembelajaran Geoteknik dan Keandalan Struktur Bendungan Urugan
Dari sudut pandang rekayasa geoteknik dan konstruksi, Bendungan Batutegi menyajikan materi pembelajaran hidup yang sangat kaya. Para dosen pengampu mengajak mahasiswa mencermati stabilitas lereng bendungan, pemilihan material zona urugan, hingga teknologi instrumen keamanan bendungan (dam monitoring instrumentation).

Sefrinta Sasma Murdiagatma, S.T., MT., menekankan bahwa keandalan fisik bendungan urugan sangat bergantung pada monitoring geoteknik yang dilakukan secara berkesinambungan. “Pemantauan instrumen seperti piezometer untuk mengukur tekanan air pori, inclinometer untuk mendeteksi pergeseran tanah, serta pengamatan rembesan (seepage monitoring) adalah jantung dari keselamatan bendungan. Mahasiswa teknik sipil harus memahami bahwa pembangunan bendungan tidak berhenti saat konstruksi selesai, melainkan berlanjut pada manajemen risiko dan pemeliharaan preventif selama umur operasinya,” papar Sefrinta.

Ia juga menambahkan bahwa pemodelan sistem dinamik dan analisis keandalan tampungan air merupakan aspek vital agar operasional bendungan mampu mengimbangi kebutuhan air irigasi lokal serta kontinuitas pembangkitan listrik tanpa mengabaikan aspek keamanan batas atas tampungan.
Sementara itu, pembahasan mengenai desain struktur hidrolis pada bangunan pelimpah (spillway) dan saluran pengelak (diversion tunnel) dipaparkan oleh Vanita Kesumawati Yacub, ST., M.Eng., bersama Ir. Susarman, ST., MT. Mahasiswa diajak mengamati bentuk peredam energi (energy dissipator) pada kaki pelimpah yang dirancang untuk meredam kecepatan aliran air agar tidak merusak alur sungai alami di hilir.
Sinergi Arsitektur Infrastruktur dan Keberlanjutan Lingkungan
Kunjungan lapangan ini tidak hanya menyoroti aspek hitungan teknis dan keandalan struktur semata. Integrasi antara fungsi rekayasa sipil, estetika kawasan, dan wawasan lingkungan turut menjadi topik diskusi menarik di area pelimpah utama.

Rahma Sopilawati, S.Ars., MT., memberikan pandangannya mengenai pentingnya pendekatan lanskap dan tata ruang pada bangunan penunjang bendungan. Menurutnya, infrastruktur keairan berskala besar memiliki potensi kuat sebagai kawasan edukasi dan pariwisata berbasis lingkungan (ecotourism). “Desain tata ruang di sekitar bentang alam Batutegi memperlihatkan bagaimana infrastruktur berat (hard engineering) dapat bersanding harmonis dengan lanskap hijau di sekitarnya. Keindahan alam Batutegi bukan sekadar nilai tambah visual, melainkan bagian dari komitmen menjaga kawasan tangkapan air (catchment area) tetap lestari,” jelas Rahma.

Melengkapi perspektif praktis, Ir. Sari Anton, S.T., M.T., dan Ir. Hadyan Arifin Bustam, S.T., M.T., berbagi pengalaman lapangan terkait tantangan operasi konstruksi dan pemeliharaan berkala infrastruktur air. Ir. Sari Anton mengingatkan mahasiswa bahwa disiplin tata kelola air memerlukan koordinasi lintas sektor yang ketat, mulai dari balai besar wilayah sungai, otoritas pengelola energi, hingga kelompok tani pengguna air.

“Seorang insinyur teknik sipil masa depan dituntut tidak hanya menguasai perangkat lunak analisis struktur atau rumus hidrolika, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap manajemen lapangan dan komunikasi antarpemangku kepentingan,” ujar Ir. Hadyan Arifin Bustam, merangkum esensi peninjauan tersebut.

Membentuk Generasi Insinyur Sipil yang Tangguh dan Berwawasan Luas
Antusiasme peserta terlihat sepanjang jalurnya rangkaian kegiatan. Mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan seputar tantangan pengerukan sedimentasi, mekanisme pengoperasian pintu air (spillway gate) saat musim penghujan ekstrim, hingga penerapan teknologi digital dalam pemantauan kondisi fisik bendungan secara real-time.

Bagi para mahasiswa, menyaksikan langsung skala masif dari ruang kontrol, lorong pemeriksaan (inspection gallery), dan limpasan air pelimpah memberikan pengalaman belajar yang tak tergantikan di dalam ruang kelas. Pengalaman empiris ini memperjelas korelasi antara parameter desain dalam lembar kalkulasi dengan wujud nyata bangunan di lapangan.

Kegiatan kunjungan lapangan ini ditutup dengan sesi diskusi interaktif di area gardu pandang Bendungan Batutegi, diikuti dengan sesi foto bersama seluruh civitas akademika Program Studi S1 Teknik Sipil.

Kuliah tidak Harus di Kelas
Wakil Rektor Universitas Teknokrat Indonesia Dr. H. Mahathir Muhammad, SE., MM, menyampaikan kuliah langsung praktik langsung ke lokasi bendungan batutegi sesuai dengan matakuliah yang ada adalah bukti Teknokrat ingin melahirkan lulusan yang siap terjun dan berdampak untuk masyarakat.

Melalui pembelajaran di lapangan, mahasiswa S1 Teknik Sipil memahami secara nyata bagaimana infrastuktur bendungan berperan bagi ketahanan air, pertanian, dan kesejahteraan warga lampung, tambah Mahathir.

Dalam kegiatan ini mendukung, SDGs Utama yang terkait: SDGs 6: Air Bersih dan sanitasi layak. Mahasiswa belajar langsung tata kelola air untuk mendukung SDGs 6.5 & 6.a2. SDGs 4: Pendidikan Berkualitas sesuai dengan Ini peran Universitas Teknokrat Indonesia yang mempunyai target: pendidikan vokasi dan pembelajaran berbasis praktik
Kaitannya: Kuliah lapangan = experiential learning. Mahasiswa Teknik Sipil dapat skill nyata di lapangan3. SDGs 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur sesuai bidang keilmuannya. Targetnya: membangun infrastruktur yang tangguh dan berkelanjutan.

Kaitannya: bendungan sebagai infrastruktur vital. Mahasiswa belajar perencanaan, konstruksi, dan pemeliharaan infrastruktur air4. SDGs 2: tanpa kelaperan ini dampak tidak langsungnya sesuai dengan target: ketahanan pangan melalui irigasi, kaitannya: Batutegi mengairi sawah di Lampung. Tata kelola air yang baik = ketahanan pangan terjaga.

Ayo kuliah di Universitas Teknokrat Indonesia spmb.teknokrat.ac.id. (W9-jm)

banner 728x90*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *