Dr. Sutanto, Kepala SMAN 1 di Lampung Tengah Tak Beradab, Walimurid Dibilang “Bengak dan Bodoh”

Lampung Tengah, Warta9.com – Kepala SMAN 1 Anak Ratu Aji Lampung Tengah tidak punya sopan santun terkesan arogan dan tidak beradab. Kata-kata kasar dan merendahkan walimurid itu dilontarkan oleh kepala sekolah Dr. Sutanto, SPd, MPd.

Kata-kata nada penghinaan yang dilontarkan seorang kepala sekolah bergelar doktor Sutanto berbunyi “Orang tuanya bengak dan bodoh”. Gaya bicaranya seperti preman pasar tidak mencerminkan seorang pendidik.

Bacaan Lainnya

Bengak bahasa Palembang artinya bodoh. Kata ini termasuk dalam kategori kata makian atau umpatan yang merujuk pada seseorang yang lamban berpikir atau sulit memahami sesuatu.

Kata-kata tidak beradaptasi berbada cacian itu, terlontar dari mulut Sutanto, saat dimintai tanggapan wartawan terkait persoalan seragam sekolah di SMA Negeri 1 Anak Ratu Aji (ARA) Lampung Tengah.

Bukan semata karena seragam siswa yang tak kunjung lengkap meski telah dibayar lunas, melainkan akibat pernyataan kasar Kepala Sekolah, yang justru menambah panas suasana. Alih-alih memberi klarifikasi yang menenangkan, Kepala SMAN 1 Anak Ratu Aji Sutanto, justru melontarkan kata-kata bernada penghinaan kepada wali murid. Pernyataan tersebut disampaikan saat awak media meminta konfirmasi terkait keluhan orang tua siswa mengenai keterlambatan pengadaan seragam.

“Kami tidak mengelola pengadaan seragam murid. Orang tuanya saja yang bengak, bodoh, kok masih nyalahin sekolah. Semuanya sekolah tidak tahu-menahu, semuanya dikelola komite dan konveksi,” ujar Sutanto, saat dikonfirmasi wartawan, seperti dikutip Wawai News, Selasa (3/1).

Pernyataan ini sontak menuai kecaman. Sebab, sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) sekaligus pimpinan satuan pendidikan, ucapan tersebut dinilai tidak hanya melanggar etika, tetapi juga mencederai marwah dunia pendidikan yang seharusnya mengedepankan sikap mendidik, bukan merendahkan seseorang.

Wali murid menyampaikan fakta yang bertolak belakang dengan pernyataan kepala sekolah. Mereka mengaku telah melunasi pembayaran seragam sebesar Rp895.000, yang diserahkan melalui guru di lingkungan sekolah dan disertai kwitansi dari pihak konveksi.

Namun hingga Februari sejumlah seragam seperti, seragam olahraga dan sweater belum diterima siswa.

Uangnya sudah lunas. Tapi seragam belum lengkap. Anak sudah sekolah, tapi seragamnya belum semua,” ungkap wali murid siswa kelas X, Minggu (1/2/2026).

Ironisnya, transaksi dilakukan melalui jalur yang beririsan langsung dengan sekolah. Namun saat muncul persoalan, sekolah justru memilih posisi aman, lepas tangan.

Kepala sekolah berdalih bahwa seluruh proses pengadaan seragam berada di tangan komite sekolah dan pihak konveksi. Dalih ini justru membuka pertanyaan mendasar. Di mana fungsi pengawasan sekolah? Sebagai lembaga pendidikan negeri, sekolah tetap memiliki kewajiban moral dan administratif untuk memastikan bahwa aktivitas komite berjalan transparan, tidak merugikan wali murid, serta tidak menimbulkan potensi pungutan bermasalah

Praktik “lempar bola” ini memunculkan dugaan bahwa komite sekolah hanya dijadikan tameng, sementara pihak sekolah terkesan tidak tahu-menahu hingga masalah membesar dan kepercayaan publik runtuh.

Kasus ini menjadi alarm keras bahwa persoalan di sekolah negeri bukan hanya soal kain dan ukuran baju. Ini menyangkut arogansi kekuasaan, tata kelola yang kabur, serta lemahnya pengawasan pemerintah. Di ruang kelas, siswa diajarkan sopan santun dan etika. Namun di ruang kantor kepala sekolah justru terdengar kata “bengak dan “bodoh”.

*Soal Dana BOS Pernah Dipersoakan
Pada Agustus tahun 2025, sejumlah walimurid di SMAN 1 Anak Ratu Aji pernah mempersoalkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan pungli dana komite.

Dugaan penyalahgunaan dana BOS terindikasi adanya siswa yang mengundurkan diri juga masih terdata. Bukan cuma dana BOS dan uang komite pengelolaan Kantin sekolah pada waktu itu juga dipersoalkan. (W9-jm)

 

banner 728x90*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *