Kawasan Konservasi Mangrove Petengoran Teluk Pandan, Bukti Sinergi Masyarakat dan Kampus Menjaga Pesisir Lampung

Peta lokasi dan peta digital lima zona Kawasan Konservasi Mangrove Petengoran, Desa Gebang, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. (dok)

Warta9.com – Di pesisir Desa Gebang, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, terhampar sebuah kawasan yang menyimpan cerita panjang tentang kepedulian dan kerja sama lintas pihak: Kawasan Konservasi Mangrove Petengoran.

Kawasan ini bukan sekadar hamparan hutan bakau yang menghijau di tepi laut, melainkan hasil dari upaya bertahun-tahun masyarakat setempat yang bertekad menjaga ekosistem pesisir mereka dari kerusakan.

Bacaan Lainnya

Pengelolaan kawasan ini berada di tangan Kelompok Pelestari Mangrove, sebuah kelompok masyarakat yang berasal dari sekitar kawasan konservasi itu sendiri. Di bawah kepemimpinan Hariman, kelompok ini menjadi garda terdepan dalam merawat, mengawasi, dan mengembangkan potensi hutan mangrove Petengoran agar tetap lestari sekaligus bermanfaat bagi kehidupan warga sekitar.

Kolaborasi dengan Dunia Akademik
Sejak tahun 2023, langkah para pelestari ini mendapat dukungan ilmiah dari Tim Peneliti kelompok riset URO, Universitas Lampung (Unila), yang dipimpin oleh Dr. Ardian Ulvan.

Kerja sama ini membuahkan sejumlah penerapan hasil penelitian yang kini menjadi bagian penting dari pengelolaan kawasan, di antaranya pemetaan digital Kawasan Konservasi Mangrove, pengukuran parameter air laut, hingga penyusunan peta potensi hutan mangrove Petengoran yang dikelompokkan ke dalam lima zona.

Tidak berhenti di situ, Dr. Ardian bersama tim peneliti juga melakukan pendataan dan pemberian identitas pada setiap pohon mangrove yang ada, membangun database spesies mangrove di kawasan tersebut, serta mengukur kemampuan mangrove Petengoran dalam menyerap karbon dioksida.

Rangkaian penelitian ini kemudian dilengkapi dengan program pemberdayaan bagi para pelestari dan masyarakat sekitar, agar keberadaan kawasan konservasi tidak hanya berdampak secara ekologis, tetapi juga memberi manfaat ekonomi yang nyata bagi warga.

Tanggung Jawab Sosial Kampus
Dr. Ardian Ulvan menegaska, bahwa kolaborasi ini lahir dari semangat tanggung jawab sosial dunia akademik. Menurutnya, para peneliti dari kampus Unila memiliki kewajiban untuk menerapkan hasil-hasil penelitian yang telah dikembangkan di lingkungan kampus kepada masyarakat, khususnya di Kawasan Konservasi Mangrove Petengoran beserta warga di sekitarnya. Dengan begitu, program kampus berdampak yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dapat terwujud sesuai dengan target yang diharapkan.

Program Living Lab 2026
Memasuki tahun 2026, semangat kolaborasi ini kembali diperkuat melalui dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Para peneliti Unila tengah menjalankan program penerapan penelitian kampus berdampak yang diberi nama “Living Lab Ketahanan Iklim, Ekplorasi Ekonomi Biru dan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir berbasis IOT di Kabupaten Pesawaran”. Program ini menyasar dua target utama sekaligus: Memperkuat upaya konservasi mangrove di Petengoran, sekaligus mendorong penguatan ekonomi bagi para pelestari dan masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan konservasi tersebut.

Melalui program Living Lab ini, lanjut Dr. Ardian, Kawasan Konservasi Mangrove Petengoran diharapkan tidak hanya menjadi benteng alami bagi pesisir Pesawaran dari ancaman abrasi dan perubahan iklim, tetapi juga menjelma menjadi model nyata bagaimana ilmu pengetahuan, masyarakat, dan alam dapat berjalan beriringan untuk kemaslahatan bersama. (W9-jm)

banner 728x90*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *