Orasi Wisudawan Universitas Teknokrat, “Kampus Berdampak Sebagai Solusi di Era Disrupsi”

Wisudawan terbaik, David Oktvianus, pidato dalam Bahasa Inggris. (foto : ist)

Bandarlampung, Warta9.com – Wisuda gelombang pertama tahun 2026 Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) kampus terbaik di Lampung mewisuda sebanyak 416 lulusan program sarjana S1 dan program Pascasarjana (S2).

Dalam wisuda yang berlangsung, Kamis (30/7/2026), ada tiga wisudawan terbaik yang menyampaikan orasi ilmiah dalam tiga bahasa, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan Bahasa Lampung.

Bacaan Lainnya

Wisudawan terbaik, David Oktvianus, lulusan prodi Bahasa Inggris, mengangkat tema “Kampus Berdampak Sebagai Solusi di Era Disrupsi”.

David menyampaikan, bahwa dunia yang kita masuki hari ini bukan lagi dunia yang stabil dan dapat ditebak. Kecerdasan buatan menulis kode, mendiagnosis penyakit, dan menyusun laporan keuangan dalam hitungan detik. Batas antara pekerjaan manusia dan mesin terus bergeser, dan tidak ada satu profesi pun yang benar-benar kebal dari perubahan ini.

Forum Ekonomi Dunia dalam laporannya tahun 2025 mencatat bahwa para pemberi kerja memperkirakan 39 persen keterampilan inti yang dibutuhkan pasar kerja akan berubah pada tahun 2030. Namun kabar baiknya, laporan yang sama juga memproyeksikan terciptanya 170 juta lapangan kerja baru secara global, dengan 92 juta posisi mengalami pergeseran, sehingga menghasilkan penambahan bersih 78 juta pekerjaan pada dekade ini. Artinya, disrupsi bukanlah akhir dari kesempatan, melainkan pemindahan kesempatan, dari mereka yang berhenti belajar kepada mereka mau yang terus bertumbuh.

Futuris Alvin Toffler pernah menulis dalam buku Future Shock, bahwa buta huruf di abad ini bukan lagi soal tidak bisa membaca dan menulis, melainkan soal ketidakmampuan untuk belajar, melepaskan yang usang, dan belajar kembali. Kalimat itu ditulis lebih dari lima dekade lalu, namun hari ini terasa seperti ditujukan langsung kepada kita, para lulusan tahun 2026.

“Zaman tak pernah menunggu yang ragu untuk siap, ia hanya merangkul yang berani berubah dan tak gentar oleh gelap,” ujar David, yang disampaikan dalam Bahasa Inggris.

Kampus Berdampak
Almamater kita, Universitas Teknokrat Indonesia, telah menempa kita bukan sekadar untuk lulus, tetapi untuk berdampak. Ini selaras dengan arah kebijakan pendidikan tinggi nasional yang bertransformasi dari Kampus Merdeka menuju Kampus Berdampak. Sebuah pergeseran dari partisipasi menuju kontribusi nyata dan terukur.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi menegaskan bahwa kampus berdampak adalah kampus yang tidak hanya menghasilkan lulusan, publikasi, dan peringkat global, tetapi juga kampus yang mentransformasi kehidupan masyarakat, menjadi pusat solusi nyata, motor inovasi sosial-ekonomi berkelanjutan, sekaligus mediator kolaborasi antarpihak. Perguruan tinggi, dengan kata lain, dituntut menjadi mercusuar peradaban bukan menara gading yang berjarak dari persoalan rakyat.
Selama menempuh pendidikan di UTI, kita tidak hanya diajar untuk menghafal teori. Kita dilatih menyelesaikan studi kasus nyata, magang di industri, membangun proyek berbasis masalah, dan berkolaborasi lintas disiplin. Semua itu adalah latihan untuk satu tujuan: memastikan bahwa ijazah yang kita genggam hari ini bukan sekadar bukti kelulusan, melainkan surat sanggup untuk berkontribusi. (W9-jm)

 

banner 728x90*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *