BANDAR LAMPUNG – Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Lampung menjadi tuan rumah kegiatan Bimbingan Teknis Guru Utama Revitalisasi Bahasa Daerah Tahun 2026 Jenjang SD/MI, Senin (20/04/2026).
Kegiatan ini diikuti 112 guru dari 15 kabupaten/kota se-Provinsi Lampung. Bimtek ini merupakan bagian dari upaya strategis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dalam memperkuat program Revitalisasi Bahasa Daerah.
Para guru utama dipersiapkan menjadi penggerak utama pelindungan dan pengembangan bahasa Lampung di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Acara dibuka secara resmi oleh Dora Amalia, Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Dalam sambutannya, Dora Amalia menegaskan, peran vital guru sebagai ujung tombak pelestarian bahasa daerah. “Guru adalah kunci. Kalau guru bergerak, bahasa daerah akan hidup di kelas, di rumah, dan di ruang-ruang publik. Revitalisasi ini bukan sekadar proyek, tapi gerakan budaya,” tegas Dora.
Kegiatan yang berlangsung di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Lampung ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas guru sebagai agen perubahan. Setelah bimtek, 112 guru utama ini wajib mendiseminasikan materi ke rekan guru di daerah masing-masing.
Targetnya, ekosistem pembelajaran bahasa Lampung makin kuat dari tingkat satuan pendidikan. Mulai dari pembiasaan salam dalam bahasa Lampung, muatan lokal mendongeng, hingga festival bahasa daerah di sekolah.
“Bahasa Lampung jangan hanya jadi pelajaran, tapi harus jadi kebiasaan. Dari guru utama inilah gerakan itu dimulai,” Ujar Dora Amalia.
Lidia Wati, S.Pd, Kepala SDN 8 Tanjung Raya, Kabupaten Mesuji, selaku Narasumber Mendongeng Lampung Jenjang SD/MI Tahun 2026 dalam bimtek ini mengatakan, “Mendongeng jadi strategi pelestarian bahasa Lampung.”
Menurut Lidia, mendongeng adalah metode paling efektif menanamkan bahasa Lampung ke anak usia SD/MI. “Anak-anak lebih cepat menyerap bahasa lewat cerita. Ketika mereka tertawa, terharu, atau penasaran dengan tokoh dalam dongeng berbahasa Lampung, di situlah kecintaan pada bahasa ibu tumbuh.
Lidia membagikan teknik mendongeng interaktif menggunakan kosakata Lampung sehari-hari, ekspresi, dan alat peraga sederhana yang bisa dibuat guru dari bahan lokal, ujar Lidia Wati.
Adapun Kelas C yang diajar oleh Lidia Wati, S.Pd., Kepala SDN 8 Tanjung Raya, Kabupaten Mesuji, diikuti 35 peserta dari 5 kabupaten/kota, yaitu:
1. Bandar Lampung
2. Lampung Timur
3. Metro
4. Tulang Bawang Barat
5. Tulang Bawang
Kegiatan ini juga diikuti oleh Tim Guru Utama Bahasa Lampung Kabupaten Mesuji Jenjang SD/MI. Peserta dari Kabupaten Mesuji terdiri atas 5 SD dan 2 MI.
Dalam penyampaiannya, Narasumber Lidia Wati, S.Pd. mengatakan, “Sebagai narasumber dalam kegiatan ini, saya merasa sangat bersyukur dan bangga dapat ambil bagian dalam upaya revitalisasi bahasa daerah, khususnya bahasa Lampung. Kegiatan mendongeng ini bukan hanya sekadar perlombaan, tetapi merupakan langkah penting dalam menjaga dan menghidupkan kembali bahasa ibu kita di tengah arus perkembangan zaman.”
“Mendongeng adalah cara yang sangat indah untuk mengenalkan bahasa Lampung kepada generasi muda. Di dalam setiap cerita, tersimpan nilai-nilai kehidupan, kearifan lokal, serta identitas budaya yang harus kita jaga bersama. Anak-anak tidak hanya belajar berbicara, tetapi juga belajar memahami makna, etika, dan karakter melalui cerita yang disampaikan,” lanjut Lidia Wati.
Ia berharap kegiatan revitalisasi bahasa daerah seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan di seluruh wilayah Provinsi Lampung, dan lebih ditingkatkan lagi di Kabupaten Mesuji.
“Mari kita bersama-sama menjaga dan melestarikan bahasa Lampung sebagai jati diri dan warisan budaya yang sangat berharga. Lamon mak gham sapa lagi, lamon mak ganta kapan lagi,” ungkap Lidia Wati.
Selain sebagai narasumber, Lidia Wati, S.Pd. juga dipercaya sebagai penyusun Model Pembelajaran Mendongeng Provinsi Lampung Tahun 2026. Model ini nantinya akan digunakan oleh seluruh Guru Utama Bahasa Lampung untuk menjaring dan membina bibit siswa berprestasi dalam mendongeng bahasa Lampung, khususnya persiapan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tahun 2026.
“Selain sebagai narasumber, saya juga dipercaya sebagai penyusun Model Pembelajaran Mendongeng Provinsi Lampung Tahun 2026. Model tersebut akan dipakai seluruh Guru Utama Bahasa Lampung untuk mencari bibit siswa berprestasi dalam mendongeng bahasa Lampung untuk perlombaan FTBI 2026,” pungkas Lidia Wati. (San)

*





