Nasrullah Yusuf: Universitas Teknokrat Harus Jadi Kampus Pencetak Inovator, Bukan Sekadar Pengguna Teknologi

Bandarlampung, Warta9.com – Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H.M. Nasrullah Yusuf, S.E., M.B.A., dalam arahannya menegaskan bahwa sebagai kampus terbaik, Universitas Teknokrat Indonesia wajib membekali mahasiswa dengan literasi digital dan AI sejak hari pertama kuliah.

“PKKMB bukan hanya seremonial. Ini adalah gerbang awal untuk membentuk karakter mahasiswa Teknokrat yang unggul, berdaya saing global, dan siap menjadi inovator. Di kampus terbaik ini, kami tidak mendidik mahasiswa untuk hanya menjadi pengguna, tetapi menjadi pencipta solusi. Literasi transformasi digital dan AI adalah kunci agar mahasiswa kami mampu memberi dampak nyata bagi masyarakat, bangsa, dan dunia,” tegas Rektor Nasrullah Yusuf, dalam kegiatan PKKMB tahun 2026, Rabu (16/9/2026).

Bacaan Lainnya

Menurut Rektor, prestasi Teknokrat sebagai ASEAN’s Best Private University harus sejalan dengan kualitas dosen terbaik dan kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan AI.

Sementara itu, Wakil Rektor Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Umum Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. Sampurna Dadi Riskiono, S.Kom., M.Eng, mengatakan, bahwa kuliah di era digital bukan hanya soal menguasai materi, melainkan kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, berkolaborasi, dan mencipta.

Ia menjelaskan AI kini telah hadir membantu mahasiswa mencari ide, menjelaskan konsep, membuat rancangan, menganalisis data, hingga menghasilkan konten. Namun risiko tetap nyata: informasi salah (halusinasi AI), plagiarisme, kebocoran data, bias, hingga deepfake.

“Transformasi digital bukan sekadar pindah dari manual ke aplikasi. Ada empat tahapan: digitalisasi, transformasi digital, literasi digital, dan literasi AI. Literasi AI berarti memahami kemampuan dan keterbatasan AI, mampu memberi instruksi yang tepat, memeriksa hasil, dan menggunakannya secara etis,” jelasnya.

Lima Kompetensi dan Rumus Prompt K-T-F-B-V
Sebagai dosen terbaik di bidang kepakaran AI dan transformasi digital, Dr. Sampurna menguraikan lima kompetensi AI yang wajib dibangun mahasiswa sejak semester satu: Memahami, Mengarahkan, Memverifikasi, Menggunakan secara Etis, dan Mencipta.

Ia juga membagikan rumus sederhana menyusun perintah (prompt) yang efektif: K-T-F-B-V: Konteks, Tugas, Format, Batasan, dan Verifikasi.

“Jangan hanya menjadi pengguna teknologi, jadilah pemecah masalah dengan teknologi. AI adalah co-pilot, bukan autopilot. AI boleh membantu brainstorming dan analisis, tapi keputusan akhir, penilaian, dan tanggung jawab tetap di tangan manusia,” tegasnya.

Dari Mahasiswa Menuju Problem Solver dan Inovator
Dr. Sampurna memproyeksikan pemanfaatan AI dalam kehidupan kampus terbaik ini, mulai dari membantu belajar, riset, kreativitas, organisasi, karier, hingga pengabdian kepada masyarakat, seperti proyek “AI untuk UMKM dan Desa” untuk membantu pelaku UMKM membuat katalog, materi promosi, hingga dashboard usaha.

Ia mendorong mahasiswa baru untuk naik level: dari pengguna AI menjadi _problem solver_, hingga menjadi inovator yang mencipta, menguji, berkolaborasi, dan memberi dampak.

Ia menutup dengan lima prinsip mahasiswa Teknokrat di era AI: Curious, Critical, Creative, Ethical, dan Impactful. “Jangan takut pada AI. Takutlah jika kita berhenti belajar. Belajar dengan AI. Berpikir bersama AI. Tetapi tetap menjadi manusia yang menentukan,” pungkasnya, disambut antusias ribuan mahasiswa baru. (W9-jam)

banner 728x90*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *