
Jakarta, Warta9.com – Sejumlah anak muda kreatif dikomandoi oleh Angga Wijaya punya ide, menggagas pameran tunggal jejak perjalanan Anshori Djausal digelar di Jakarta tepatnya, di dua lantai Contemporary Art Gallery, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Mereka menggelar pameran selama sebulan penuh mulai hari ini, Sabtu 12 September hingga 12 Oktober 2026.
Ditengah-tersiapan kesibukannya mempersiapkan pameran, Jumat (11/9/2026), Kurator Angga Wijaya menyampaikan, pameran skala nasional ini menelusuri perjalanan Ir. H. Anshori Djausal, MT, sebagai insinyur dan budayawan melalui, arsip, foto, video, kliping koran, buku, gambar teknik dan masterplan. Berbagai arsip tersebut, lanjut Angga Wijaya, disusun dalam instalasi kontemporer dengan memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari presentasi dan pengalaman pameran.
Di tengah perkembangan modernisasi dan teknokrasi di masa orde baru, sejak dekade 1970-an, Anshori Djausal menerapkan teknologi tepat guna (TTG) melalui teknik foresemen, dengan mempertimbangkan dengan mempertimbangkan kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan tempat teknologi tersebut digunakan. Praktek tersebut menjadi bagian dari pembentukan cara pandang Anshori Djausal terhadap hubungan antara teknologi, lingkungan dan kehidupan masyarakat yang kemudian menjadi perhatian yang lebih luas terhadap lingkungan dan kebudayaan Lampung hingga saat ini.
Dalam pameran skala nasional ini, para pengunjung diajak untuk melihat, membaca dan mempelajari perjalanan dan gagasan Anshori Djausal. Kemudian mempertemukan dengan persoalan masa kini di tengah berbagai tantangan krisis ekologis dan memudarnya pengetahuan lokal.
Pameran ini dibagi dalam tiga fokus, arsitektur dan masyarakat, teknologi dan lingkungan serta budaya Lampung. Diangkatnya tajuk “Kayu Ara” merupakan simbul kehidupan dsn Kosmologi masyarakat Lampung yang menitik beratkan pameran untuk membaca persinggungan antara teknologi, lingkungan dan akar kebudayaan.

KAYU ARA, Arsitektur, Teknologi dan Budaya Lampung dalam Karya dan Pemikiran Anshori Djausal, akan menjadi sejarah baru bagaimana seorang arsitek dan budayawan, kembali membangunkan kita semua, bahwa ada anak Lampung yang berbuat untuk daerah dan negaranya.
Dipilihnya “Kayu Ara” sebagai tajuk pameran ini bukan kebetulan. Sebab, dalam tradisi masyarakat Lampung, pohon memiliki kedudukan penting sebagai simbol kehidupan. Ia hadir dalam artefak budaya, upacara adat, dan pengetahuan masyarakat yang memandang manusia sebagai bagian dari alam.
Pohon mengajarkan satu hal sederhana: tidak ada kehidupan yang benar-benar berdiri sendiri. Akar membutuhkan tanah, batang membutuhkan akar, daun membutuhkan cahaya, buah membawa benih, dan benih membawa kemungkinan masa depan. (W9-jm)
*





