Kampus Berdampak, Dosen dan Mahasiswa Universitas Teknokrat Beri Pelatihan Siswa di SMAN 1 Jati Agung

Guru SMAN 1 Jati Agung sedang memberi pelatihan kepada siswa SMAN 1 Jati Agung. (foto : ist)

Lampung Selatan, Warta9.com – Dunia teknik sipil dan arsitektur selama ini sering dianggap sebagai bidang yang rumit, penuh dengan perhitungan kalkulus dan rumus fisika yang menjemukan. Namun, persepsi tersebut berhasil dipatahkan oleh tim pengabdian masyarakat dari Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) kampus terbaik di Lampung. Melalui skema angkatan Program Kemitraan Masyarakat (PkM), para akademisi ini turun langsung ke SMAN 1 Jati Agung, Lampung Selatan, untuk memperkenalkan prinsip dasar rekayasa struktur melalui media yang sederhana namun edukatif: stik es krim.

Kegiatan PkM yang merupakan implementasi dari kampus berdampak
berlangsung meriah ini bukan sekadar ajang kumpul-kumpul biasa. Kegiatan ini adalah upaya sistematis untuk menanamkan nalar kritis dan kemampuan desain pada siswa sekolah menengah. Mengusung tema “Miniature Bridge Engineering”, pelatihan ini dipandu oleh dosen dari Universitas Teknokrat Indonesia, yakni Dr. Ir. Lilik Ariyanto, ST., MT., IPM., ASEAN Eng., Sefrinta Sasma Murdiagatma, ST., MT., Ir. Hadyan Arifin Bustam, ST., MT., dan Rahma Sopilawati, S. Ars., MT., serta dibantu oleh 8 mahasiswa terpilih.

Bacaan Lainnya

Dalam sambutannya, Dr. Ir. Lilik Ariyanto menekankan bahwa pembangunan infrastruktur di masa depan memerlukan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki intuisi struktur yang kuat. “Kita ingin menunjukkan bahwa untuk membangun jembatan yang kokoh, poin utamanya bukan terletak pada seberapa banyak material yang digunakan, melainkan bagaimana material tersebut disusun agar mampu mendistribusikan beban secara merata,” ujar Dr. Lilik di hadapan para siswa yang antusias.

Pelatihan ini dimulai dengan pemaparan teori dasar mengenai gaya tekan (compression) dan gaya tarik (tension). Siswa diajarkan bahwa stik es krim, yang secara individual sangat rapuh, dapat menahan beban puluhan kali lipat beratnya sendiri jika dikonfigurasi dalam bentuk segitiga—prinsip dasar dari struktur truss yang sering kita lihat pada jembatan-jembatan besar di dunia. Kehadiran para dosen memberikan warna teknis yang mendalam pada workshop ini. Mereka memberikan demonstrasi visual mengenai kegagalan struktur. Sementara itu dari perspektif arsitektur, memberikan pemahaman bahwa jembatan tidak hanya harus kuat, tetapi juga harus memiliki nilai estetika dan efisiensi ruang.

Keterlibatan delapan mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia juga menjadi kunci keberhasilan acara ini. Para mahasiswa berperan sebagai mentor di setiap kelompok kecil. Mereka mendampingi siswa SMAN 1 Jati Agung dalam proses pengeleman, penyusunan rangka, hingga tahap finalisasi. Pendekatan peer-to-peer mentoring ini membuat suasana belajar menjadi lebih cair dan tidak kaku, memicu kreativitas siswa untuk bereksperimen dengan desain mereka sendiri.

Puncak acara ditandai dengan kompetisi kecil pembuatan jembatan sederhana. Setiap kelompok dibekali dengan jumlah stik es krim dan lem yang sama. Tantangannya jelas: buatlah jembatan dengan bentang tertentu yang mampu menahan beban statis paling berat tanpa mengalami keruntuhan total.

Riuh rendah suara sorak-sorai memenuhi ruang aula saat proses pengujian beban dilakukan. Beberapa jembatan yang secara visual terlihat indah ternyata ambruk saat diberi beban pertama karena koneksi antar-stik yang kurang kuat. Sebaliknya, jembatan yang terlihat sederhana namun memiliki pola Warrens Truss atau Pratt Truss yang konsisten justru mampu bertahan hingga ujian beban maksimal. Para dosen menjelaskan bahwa pelajaran terpenting bagi siswa adalah memahami titik lemah (weak point) dari sebuah karya. “Ketika jembatan mereka patah, di sanalah mereka benar-benar belajar. Mereka akan mencari tahu bagian mana yang gagal dan bagaimana cara memperkuatnya di masa depan,” imbuh Dr. Ir. Lilik Ariyanto, S.T., M.T., IPM. ASEAN Eng.

Bagi pihak SMAN 1 Jati Agung, kegiatan PKM dari Universitas Teknokrat Indonesia ini merupakan angin segar bagi kurikulum ekstrakurikuler mereka. Plt. Kepala sekolah, Yenny Ratnasarie SY, M.Pd., menyambut positif inisiatif ini karena memberikan gambaran nyata kepada para siswa mengenai dunia perkuliahan, khususnya di bidang Teknik Sipil, Arsitektur, dan Teknik secara umum.

“Kami sangat berterima kasih kepada Dr. Lilik dan tim. Seringkali siswa kami kebingungan memilih jurusan saat lulus. Dengan adanya praktik langsung seperti ini, mereka jadi tahu bahwa teknik itu seru dan menantang,” ungkap salah satu perwakilan guru pendamping.

Selain keterampilan teknis (hard skills), kegiatan ini juga mengasah soft skills siswa, seperti kerja sama tim, komunikasi, dan manajemen waktu. Membangun jembatan stik es krim dalam durasi terbatas menuntut koordinasi yang solid antara anggota kelompok sebuah simulasi kecil dari manajemen proyek konstruksi yang sebenarnya.

Universitas Teknokrat Indonesia, yang dikenal sebagai Universitas Terbaik di ASEAN, kembali membuktikan komitmennya dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi. Melalui tim yang dipimpin oleh Dr. Lilik Ariyanto, universitas ini menunjukkan bahwa menara gading akademisi harus memberikan manfaat konkret bagi masyarakat sekitar.

Kegiatan ini hanyalah satu dari sekian banyak rangkaian pengabdian yang dilakukan oleh Teknokrat di berbagai daerah di Lampung. Dengan membawa teknologi dan pengetahuan kampus ke tingkat sekolah, diharapkan akan lahir generasi-generasi insinyur baru yang siap membangun Indonesia lebih kokoh lagi.

Saat matahari mulai condong ke barat, acara ditutup dengan sesi foto bersama dan penyerahan penghargaan bagi kelompok dengan desain jembatan terbaik. Meski jembatan yang dibuat hanyalah dari stik es krim, bagi para siswa SMAN 1 Jati Agung, itu adalah langkah awal untuk membangun jembatan asli yang menghubungkan pulau dan memajukan bangsa di masa depan.
Melalui bimbingan para dosen ahli dan kakak-kakak mahasiswa, mimpi-mimpi besar itu mulai dipahat dari hal-hal kecil. Stik es krim itu mungkin akan berakhir di tempat sampah jika tidak diolah, namun di tangan siswa SMAN 1 Jati Agung dan bimbingan tim Universitas Teknokrat Indonesia, ia telah berubah menjadi media pembelajar berharga yang membangun logika dan cita-cita.

Bagi lulusan SMA/SMK yang memiliki minat untuk memperdalam konsep dasar dan rekayasa struktur, dapat segera mendaftar ke Program Studi S1 Teknik Sipil Universitas Teknokrat Indonesia dengan cara datang langsung ke kampus atau mendaftar melalui website kampus Universitas Teknokrat Indonesia.

Ayo lulusan SMA, SMK, MA, kuliah di Universitas Teknokrat Indonesia dengan mengakses spmb.teknokrat.ac.id. (W9-jm)

 

banner 728x90*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *