
Bandarlampung, Warta9.com – Yolanda Mutiara, salah satu wisudawan terbaik mendapat kepercayaan untuk melakukan orasi ilmiah pada wisuda gelombang pertama Universitas Teknokrat Indonesia (UTI), Kamis (30/7/2026).
Dalam pidatonya, Yolanda mengangkat tema “Dari Ijazah Menuju Dampak Nyata”. Yolanda menyoroti bahwa dampak nyata itu tidak harus dimulai dari hal yang besar. Dampak tersebut bisa dimulai dari:
Solusi digital sederhana yang membantu pedagang pasar mencatat keuangan dan memasarkan produknya secara daring; Inisiatif literasi dan mengajar bagi anak-anak di daerah yang masih tertinggal akses pendidikannya. Riset terapan dan inovasi produk yang lahir dari kolaborasi kampus dengan industri dan pemerintah daerah;
Rintisan usaha (startup) berbasis kampus yang menyerap tenaga kerja baru, bukan sekadar mencari pekerjaan.
Teladan integritas di tempat kerja maupun di tengah masyarakat sekecil apa pun posisi kita.
Klaus Schwab, penggagas gagasan Revolusi Industri Keempat, pernah menegaskan bahwa arah teknologi bukanlah takdir yang sudah baku. Pilihan ada di tangan kita, tergantung kebijakan dan keputusan yang kita ambil. Maka izinkan saya menegaskan kembali: masa depan Indonesia di era disrupsi ini tidak ditentukan oleh algoritma, melainkan oleh keberanian lulusan-lulusan seperti kita untuk memilih menjadi bagian dari solusi.
Sebuah Tanya, Sebelum Kita Melangkah
Jika wisuda adalah pintu, apakah kita akan melangkah maju, atau berdiri mematung menatap ambang pintu itu?
Jika ilmu adalah pelita, sudahkah kita berani menyalakannya di tempat yang paling gelap? Di desa yang belum terjangkau internet, di pasar yang belum tersentuh digitalisasi, di sekolah yang kekurangan guru?
Jika dunia berubah secepat detak jantung zaman, apakah kita akan menjadi penonton yang mengeluh, atau pemain yang menulis babak baru?
Dan jika kelak ditanya, “Apa yang telah kau perbuat untuk bangsamu setelah menyandang gelar itu?” jawaban seperti apa yang ingin kita berikan?
Penutup: Panggilan untuk Melangkah
Rekan-rekan wisudawan yang saya banggakan.
Hari ini kita menutup satu bab, tetapi membuka bab yang jauh lebih menantang: bab di mana ilmu yang kita peroleh diuji oleh dunia nyata.
Marilah kita bawa semangat Kampus Berdampak ini keluar dari gerbang Universitas Teknokrat Indonesia. Bukan sebagai slogan, melainkan sebagai cara kita bekerja, berkarya, dan mengabdi selama bertahun-tahun ke depan.
Kepada kedua orang tua, terima kasih atas doa yang tidak pernah padam. Kepada para dosen, terima kasih telah menjadi suluh di tengah jalan yang kelam. Dan kepada seluruh wisudawan-wisudawati: mari kita jemput masa depan, dengan bekal ilmu dan keberanian.
Sebab ijazah bukanlah muara, melainkan mata air yang baru mengalir. Gelar bukanlah menara, melainkan tangga menuju langit yang lebih tinggi untuk kita daki bersama. Zaman boleh berubah dengan cepat dan liar, tapi karakter yang kokoh takkan pernah tergusur oleh zaman yang gemar berputar.
Disrupsi boleh datang menggoyang dan menguji, tapi lulusan Teknokrat akan berdiri, beradaptasi, dan tetap berbakti. Mari kita jadi lentera, bukan sekadar penerima cahaya. Mari kita jadi solusi, bukan sekadar saksi dari masalah yang ada di depan mata.
Dari Lampung untuk Indonesia, dari kampus Teknokrat untuk dunia
Selamat berjuang, selamat berdampak, selamat mengukir cerita masa depan. (W9-jm)
*





