
Bandarlampung, Warta9.com – Anggota Komisi III DPRD Bandarlampung H. Yuhadi, SHI, MH, melaksanakan sosialisasi pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan (IPWK) di Kelurahan Kotabaru Tanjungkarang Timur, Sabtu (28/3/2026).
Dalam momentum Idul Fitri 1447 H, Yuhadi menyampaikan maaf lahir batin kepada warga Kotabaru. Sebagai anggota DPRD Bandarlampung yang sudah tiga periode Yuhadi menganggap warga Kotabaru Tanjungkarang sudah dianggap bagian keluarga.
Yuhadi menyampaikan nilai-nilai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dinilai menjadi pelajaran yang sangat berharga dalam hidup kita. Dimana saat nabi tidak suka sama seseorang, Allah langsung menegurnya dengen keluarga surat Abasa. Nabi tidak suka sahabat yang dinilai kurang suka tapi langsung Nabi diingatkan Allah.
Berbeda saat nabi membenci Wahsyi ketika perang Uhud, Wahsyi dengan kelicikannya mengintai Sayidina Hamzah, Wahsyi tidak berani secara langsung berhadapan-hadapan dengan sayidina Hamzah. Ketika itu Wahsyi melemparkan tombaknya ke arah Sayidina Hamzah dan persis mengenai sasaran, lalu paman Rasulullah SAW wafat sebagai syuhada. Nabi pun sangat benci sehingga sulit dimaafkan Nabi.
Kesamaan ini terlihat dari prinsip-prinsip moral, kemanusiaan, dan kehidupan berbangsa yang menekankan harmoni serta keadilan.
Menurut legislator asal Partai Golkar ini, ajaran Nabi Muhammad tentang kasih sayang, keadilan, dan persatuan sejalan dengan nilai-nilai Ideologi Pancasila. Dalam ajaran Islam, Nabi Muhammad menekankan pentingnya keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai landasan utama kehidupan.
“San hal ini sejalan dengan sila pertama Pancasila yang menegaskan nilai ketuhanan sebagai dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ungkapnya.
Selain itu,, sambung Yuhadi yang duduk di Komisi III DPRD Kota Bandarlampung ini, sikap kemanusiaan yang adil dan beradab juga menjadi bagian penting dari ajaran Nabi. “Beliau mengajarkan untuk saling menghormati, berlaku adil, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan tanpa membedakan latar belakang,” paparnya.
Nilai ini sejalan dengan sila kedua Pancasila. Dalam kehidupan sosial, Nabi Muhammad dikenal sebagai sosok yang mampu mempersatukan berbagai kelompok dan suku. “Semangat persatuan ini sejalan dengan sila ketiga, yaitu Persatuan Indonesia, yang menekankan pentingnya menjaga keutuhan bangsa di tengah keberagaman,” tandas Yuhadi. “Dan hal ini sejalan dengan sila pertama Pancasila yang menegaskan nilai ketuhanan sebagai dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ungkapnya.
Nilai ini sejalan dengan sila kedua Pancasila. Dalam kehidupan sosial, Nabi Muhammad dikenal sebagai sosok yang mampu mempersatukan berbagai kelompok dan suku. “Semangat persatuan ini sejalan dengan sila ketiga, yaitu Persatuan Indonesia, yang menekankan pentingnya menjaga keutuhan bangsa di tengah keberagaman,” tandas Yuhadi.
Dalam kegiatan sosialisasi pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan Yuhadi menghadirkan dua nara sumber, wartawan Utama PWI Lampung Jamhari dan pemerhati ekonomi Gunaco Aditia Permana, SEI.
Jamhari menyampaikan, perayaan Idul Fitri Salah Satu Bentuk Implementasi Nilai-nilai Pancasila. Hari Raya Idul Fitri dan Pancasila memiliki hubungan erat sebagai penguat persatuan, toleransi, dan nilai kemanusiaan di Indonesia.
Tradisi seperti halal bihalal, mudik, dan berbagi mencerminkan pengamalan sila-sila Pancasila. (W9-jm)

*





