Menguji Ketahanan Beton Masa Depan: Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Teknokrat Kuliah Lapangan di Masjid Al-Hijrah

Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Teknokrat melakukan kuliah Lapangan di Masjid Al-Hijrah untuk pengujian ketahanan beton. (foto : ist)

Lampung Selatan, Warta9.com – Dunia teknik sipil tidak sekadar tentang mencoret kertas di atas meja gambar atau memandangi angka-angka di layar monitor. Esensi sejati dari ilmu rekayasa infrastruktur ini terletak pada bagaimana teori-teori mekanika, material, dan struktur diaplikasikan secara nyata di lapangan.

Menyadari pentingnya penyelarasan antara bangku kuliah dan realitas industri, mahasiswa Program Studi S1 Teknik Sipil Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) kampus terbaik di Lampung, pada 16 Mei 2026, melaksanakan kegiatan kuliah lapangan yang edukatif sekaligus kontributif di Masjid Al-Hijrah Kota Baru Lampung Selatan.

Bacaan Lainnya

Kuliah lapangan ini bukan sekadar kunjungan biasa melainkan melaksanakan kegiatan aplikatif sesuai teori beberapa mata kuliah. Dengan didampingi langsung oleh Ketua Program Studi S1 Teknik Sipil, Dr. Ir. Lilik Ariyanto, S.T, M.T., IPM ASEAN Eng., serta para dosen lainnya diantaranya, Ir. Kastamto, S.T., M.T., Sefrinta Sasma Murdiagatma, S.T., M.T. dan Rahma Sopilawati, S. Ars., M.T., fokus utama para mahasiswa adalah melakukan evaluasi teknis terhadap kualitas struktural bangunan masjid yang sedang dalam tahap pengembangan, dengan menggunakan salah satu metode pengujian non-destruktif (Non-Destructive Test/NDT) yang paling populer di dunia konstruksi: Hammer Test (Uji Palu Beton). Misi mereka jelas, yaitu menentukan nilai mutu beton yang telah terpasang (existing) guna memastikan bahwa rumah ibadah ini memiliki tingkat keamanan yang prima untuk jangka panjang.

Dalam manajemen siklus hidup bangunan, beton merupakan material yang memikul beban utama. Namun, performa beton di lapangan tidak selalu sama persis dengan perencanaan di laboratorium. Faktor-faktor seperti kualitas pencampuran (mixing), proses penuangan, metode pemadatan, hingga evaluasi cuaca saat pengerasan (curing) sangat memengaruhi kuat tekan akhir beton.
Untuk mengetahui apakah beton yang sudah mengeras dan terpasang memenuhi spesifikasi structural, insinyur memiliki dua pilihan metode pengujian: destructive (merusak) seperti core drill (pengeboran inti), atau non-destructive (tanpa merusak).

Pengujian merusak (destructive) dengan mengambil sampel silinder langsung dari elemen struktur tentu berisiko melemahkan kapasitas komponen bangunan tersebut, apalagi pada bangunan religius yang aktif seperti Masjid Al-Hijrah. Oleh karena itu, metode Non-Destructive Test (NDT) menggunakan alat Concrete Rebound Hammer menjadi opsi paling rasional, cepat, dan efisien.

Dipandu oleh dosen pembimbing dan asisten laboratorium, mahasiswa Teknik Sipil Teknokrat membagi diri ke dalam beberapa tim fungsional. Mereka menyasar elemen-elemen struktural vital pada bangunan Masjid Al-Hijrah, seperti kolom utama, balok penopang, dan sebagian pelat lantai. Secara ilmiah, Hammer Test bekerja berdasarkan prinsip lenturan atau pantulan mekanis. Alat ini menembakkan sebuah massa yang digerakkan oleh energi pegas standar ke permukaan beton yang rata. Ketika massa tersebut memantul kembali, alat akan mencatat jarak pantulan tersebut dalam skala numerik yang dikenal sebagai Rebound Number (Nilai R).

Berdasarkan kegiatan di lapangan, para mahasiswa Teknik Sipil Universitas Teknokrat Indonesia melaksanakan pengujian Hammer Test melalui tiga tahapan sistematis yang dilakukan secara berurutan dan presisi.

Tahapan pertama dimulai dengan preparasi permukaan beton. Pada tahap ini, mahasiswa membersihkan permukaan elemen struktur baik kolom, balok, maupun pelat lantai dari lapisan plesteran, sisa semen, cat, atau kotoran menggunakan batu gerinda. Langkah ini sangat krusial karena permukaan beton harus benar-benar rata, bersih, dan masif agar energi pantulan alat tidak teredam oleh lapisan luar yang rapuh.

Setelah permukaan siap, mahasiswa melanjutkan ke tahapan kedua, yaitu pembuatan grid penembakan. Di sini, mereka membuat pola garis-garis pembatas atau matriks berukuran sekitar 10 x 10 cm hingga 15 x 15 cm pada area uji. Di dalam area grid tersebut, ditentukan 10 hingga 12 titik penembakan spesifik dengan jarak antar titik minimal 25 mm, guna memastikan sebaran data yang representatif dan menghindari hantaman berulang pada titik yang sama.

Tahapan terakhir adalah proses penembakan dan pencatatan data. Alat Concrete Rebound Hammer ditekan secara tegak lurus (900) dan stabil terhadap permukaan titik uji hingga pegas internalnya terlepas dan menembakkan massa ke beton. Sesaat setelah dentuman pegas terjadi, mahasiswa langsung membaca indikator Rebound Number (Nilai R) yang muncul pada skala alat, lalu mencatatnya secara cermat untuk kemudian diolah ke dalam tabel kalkulasi mutu beton.

Data lapangan yang diperoleh berupa deretan angka Rebound Number tidak serta-merta langsung menunjukkan kuat tekan beton. Di sinilah letak pembelajaran penting bagi mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia. Mereka dituntut untuk melakukan analisis statistika sederhana dan konversi mekanika pasca-pengujian. Berdasarkan standar ASTM C805 atau SNI 4431:2011, nilai pantulan yang terlalu ekstrem (terlalu tinggi karena mengenai agregat keras, atau terlalu rendah karena mengenai rongga udara) harus dieliminasi dari perhitungan rata-rata.

Setelah mendapatkan nilai rata-rata Rebound Number yang valid, mahasiswa mengonversikannya menggunakan grafik kalibrasi bawaan alat untuk memproyeksikan nilai kuat tekan karakteristik beton dalam satuan Megapaskal (MPa) atau kilogram per sentimeter persegi.

Melalui konversi ini, mahasiswa dapat menilai apakah kolom dan balok di Masjid Al-Hijrah sudah mencapai mutu yang direncanakan, misalnya f’c 25 MPa (setara K-300) yang umum digunakan untuk struktur bangunan bertingkat menengah, atau justru berada di bawah ambang batas aman.

Kegiatan kuliah lapangan ini merefleksikan implementasi nyata dari konsep Project-Based Learning (PBL). Bagi mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia, pengalaman memegang alat, merasakan tekanan pegas, dan mengatasi kendala teknis di lapangan seperti keterbatasan ruang tembak atau permukaan beton yang tidak seragam memberikan sensitivitas profesional (engineering sense) yang tidak akan pernah bisa didapatkan hanya dengan membaca buku teks. Di sisi lain, kegiatan ini membawa dampak sosial yang masif. Hasil uji evaluasi mutu beton yang disusun oleh para mahasiswa ini nantinya akan diserahkan dalam bentuk laporan teknis formal kepada pengurus Masjid Al-Hijrah. Laporan ini menjadi dokumen rekomendasi yang sangat berharga bagi pihak takmir masjid untuk menentukan langkah renovasi, pemeliharaan, atau peningkatan kapasitas beban bangunan di masa mendatang demi keselamatan para jemaah.

Kegiatan ini merupakan perwujudan komitmen kampus dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada pilar Pendidikan Berkualitas (SDGs 4).

Ayo lulusan SMA, SMK dan MA lanjutkan studi dengan kuliah di Universitas Teknokrat Indonesia dengan mengklik spmb.teknokrat.ac.id. (W9-jm)

banner 728x90*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *