
Bandarlampung, Warta9.com – PTPN III (Persero) Holding, melalui PTPN I Regional 7, akan mengalihkan usahanya terutama jenis usaha karet akan dialihkan ke pengembangan Ubi Kayu PTPN Group.
Rencana pengalihan ubi kayu oleh PTPN disampaikan dalam sosialisasi calon mitra untuk Program Pengembangan Ubi Kayu PTPN Group, di PTPN I Regional 7, Senin (25/5/2026).
Dalam sosialisasi pengembangan ubi kayu PTPN I Grup, dihadiri Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tananan Pangan dan Holtikultura (KPTPH) Provinsi Lampung Elvira Umihanni, Erwin Siallagan Ketua Tim Percepatan Program Hilirisasi Komoditas Singkong PTPN III (Persero) Holding, Iskandar Dewantara, Business Support Head PTPN I Regional 7, Dekan Fakultas Pertanian Unila Prof. Dr. Ir. Kuswanta Futas Hidayat, M.P, pengurus Kadin, KTNA, HKTI, Apindo, Kelompok Petani Ubi dan sejumlah mitra usaha PTPN.
Ketua Tim Percepatan Program Hilirisasi Komoditas Singkong PTPN III (Persero) Holding Erwin Siallagan menjelaskan, dalam rangka mendukung program pemerintah pembuatan bioetanol dari singkong.
Menurut Erwin PTPN III Holding (Persero) melalui PTPN I Regional 7, akan menyiapkan lahan seluas 10.000 hektar lebih yang tersebar di wilayah PTPN I Regional 7 untuk pengembangan ubi kayu/singkong.
Program ini akan dimuulai Agustus 2026, selesai tahun ini juga untuk SKU dengan mitra PTPN. Sekarang dalam proses finalisasi di Danantara Indonesia. Sedangkan rencana pembangunan pabrik tahun 2027.
Erwin juga memaparkan areal indikatif pengembangan ubi kayu yang disiapkan oleh PTPN tersebar di enam lokasi di Lampung yaitu;
1. PTPN I Kedaton di Wilayah Lampung Selatan dengan luas 1,957 ha, konversi karet.
2. PTPN I Bergen Lampung Selatan seluas 1,113 ha, konversi karet.
3. PTPN I Way Berulu Pesawaran dengan luas 1,539 dengan konversi karet.
4. PTPN I Way Lima Pesawaran luas 1,983 dengan konversi karet.
5. PTPN I Tulung Buyut Way Kanan luas 2,029 ha, konversi karet.
6. PTPN I Bunga Mayang Lampung Utara luas 2,000 ha tanaman baru. Sehingga total lahan yang disiapkan oleh PTPN I Regional 7 seluas 10,621 hektar.
Kemudian PTPN IV Regional 7 juga menyiapkan lahan di Bekri Lampung Tengah seluas 431 hektar konversi kelapa sawit. Lalu PTPN IV Rejosari Lampung Tengah seluas 2,607 ha konversi kelapa sawit, total 3,038 hektar. Dengan demikian total lahan yang disiapkan PTPN I dan PTPN IV untuk program pengembangan ubi kayu seluas 13,658 hektar.
Lebih lanjut Erwin mengatakan, pengembangan ubi kayu ini merupakan penugasan PTPN untuk kemandirian bioenergi sebagai langkah antisipasi untuk menghadapi potensi krisis energi dan pangan global.
Dalam kesempatan ini, Erwin juga membeberkan rencana pengembangan ubi kayu per paket dengan nilai total investasi sebesar Rp58,2 miliar. Paket pekerjaan 1 dengan areal KSU luas 300 hektar nilai investasi Rp8,2 miliar. Paket pekerjaan 2 dengan areal cadangan luas 590 hektar dengan nilai investasi Rp16,1 miliar. Paket pekerjaan 3 dengan areal ATTP luas 500 hektar nilai investasi Rp16,9 miliar. Paket pekerjaan 4 dengan ATTP luas 567 hektar dengan nilai investasi Rp18,0 miliar.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tananan Pangan dan Holtikultura (KPTPH) Provinsi Lampung Elvira Umihanni, menyampaikan bahwa harga ubi kayu di Lampung saat ini mengalami kenaikan cukup signifikan hingga Rp2000 lebih per kg.
Pemprov Lampung dalam hal ini Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal telah melakukan intervensi dalam perlindungan petani ubi kayu di Lampung. Gubernur telah mengeluarkan Regulasi harga melalui :
Pergub No.38/2025 tentang Tata Kelola dan Hilirisasi Ubi kayu serta Keputusan Gubernur No.G/745/V32/HK/2025, HAP Ubi kayu. Harga Acuan Pembelian (HAP) minimal Rp1.350/Kg dengan rafaksi maksimal 15 persen. (W9-jm)

*





